• RSS GURU MUDA

    • Biru Bersholawat
      GURUMUDA.WEB.ID - Bulan Rajab yang agung dijadikan moment spesial bagi muslim di seantero negeri, termasuk di Kampung Biru, Karangpawitan, Garut. Tepat di lokasi Pondok Pesantren Nurul Hikmah, Kampung Biru, saya dan rekan-rekan dari Ikatan Hadorh Marawis Garut (IHMAGA) ikut memeriahkan dengan acara istimewa ini.Mengajak masyarakat kampung Biru bersholawat, m […]
    • Lomba Guru Blogger: Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian
      GURUMUDA.WEB.ID - Perkembangan teknologi dan komunikasi memberikan tantangan dalam pendidikan anak di zaman sekarang. Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Hal ini didukung oleh Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No.30 tahun 2017 tentang Pelibatan keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan.Med […]
    • Siswa Berprestasi, Guru Tambah Energi. Good Luck KAYLA!!!
      GURUMUDA.WEB.ID – Jika siswa menjadi salah satu juara Olimpiade SAINS, bangga dan bersyukur menjadi bagian tak terelakan bagi guru pembimbingnya. Selama dua hari (2-3 Maret 2018), OSIS SMAN 2 Garut mengadakan Olimpiade SAINS. Olimpiade SAINS ((Matematika, IPA dan IPS) itu sendiri merupakan ajang berkompetisi dalam bidang sains bagi para siswa pada jenjang SM […]
    • Cara Membuat Buletin Guru Muda dengan CorelDRAW
      GURUMUDA.WEB.ID - Buletin adalah salah satu media publikasi yang diterbitkan secara berkala. Seperti halnya, koran, majalah, tabloid, dan yang lainnya. Di zaman digital, buletin yang sering kita temui dalam versi cetak, bisa diubah menjadi buletin digital. Tak lain, tujuannnya adalah sebagai media belajar saya mengasah kemampuan di bidang desain grafis. Juga […]
    • Guru Blogger Wajib Miliki Domain. Mau GRATIS Seperti Guru Muda? Pilih Niagahoster
      GURUMUDA.WEB.ID  - Dari sekian guru di Indonesia. Alhamdulillah, saya termasuk guru yang senang menulis di blog. Ini  peluang bagi guru cerdas memanfaatkan kegiatan pembelajaran dan pendidikan di zaman digital. Guru blogger artinya guru yang senang ngeblog. Ngeblog dimanfaatkan untuk mendukung perbaikan pendidikan di Indonesia .Tempat guru ngeblog bisa diman […]
  • Terbaru

  • Tulisan Terhangat

  • Arsip Tulisan

  • Yang Mampir

  • Iklan

Anakku Menjadi Da’iah Cilik


Inilah Mubaligah Ciliknya

Hari Ahad pagi menjadi rutinitas saya mengisi pengajian ibu-ibu di Masjid Iqro. Dimulai dari jam delapan sampai tiba waktu Dhuhur. Cukup lama juga, karena bukan saya saja yang mengisi ta’lim itu. Ada sekitar 2-3 penceramah untuk memberikan taushiah pengajian tersebut.

Biasanya sengaja saya memilih menjadi penceramah yang terakhir, menjadi tantangan tersendiri. Ketika ibu-ibu pengajian sudah merasa jenuh dengan siraman rohaninya, ini terlihat sudah banyaknya jemaah yang tidak tentu posisi duduknya. Saya pun merasakan hal itu. Untuk mensiasati hal tersebut, biasanya saya shalawat menjadi obat kejenuhan para jamaah. Itu salah satu metode saya.

Ahad itu (22/1), seperti biasa saya selalu memboyong anak, istri juga ibu mertua untuk mengikuti rutin mingguan itu. Anak saya dibalut dengan kerudung yang cantik juga gamis dengan ukuran usia 1 tahun. Memang bulan Januari genap satu tahun usia Adiba (nama anak saya).

Jam di handphone menunjukkan pukul 11 siang. Satu jam cukup buat saya berbagi ilmu sebagai penceramah yang ketiga. Shalawat yang menjadi andalan saya menjadi pembuka dalam tausiah itu. Serentak para jamaah melantunkan shawalat salam kepada Baginda Rasul saw.

Ketika pada pokok pembahasan tausiah, tiba-tiba anak saya yang berusia satu tahun itu nyelonong maju ke depan, ke meja mimbar mendekati saya. “Anak siapa itu, anak siapa itu?” Tanya ibu-ibu pengajian berbisik ke teman di sampingnya.

Saya gendong anak saya sambil memberikan ceramah. Dengan percaya diri, tanpa sedikit pun malu atau nangis, anak saya menatap satu persatu jemaah sambil makan lollipop layaknya seorang da’iah atau mubalighah yang meberikan tausihan di depan mustami’nya. Kontan saja jemaah yang asalnya sedang khidmat mendengarkan ceramah saya, menjadi buyar dengan tingkah anak saya.

Saya hanya tersenyum melihat tingkah buah hati yang sedang lucu-lucunya itu. Begitu pun dengan para jemaah. Mereka tersenyum, bahkan memuji anak saya. Memang yang kami perhatikan, perkembangannya memang berbeda dengan anak sebayanya. Alhamdulillah ‘alaa kulli haal.

Mendidik anak memang pembiasaan kita sehari-hari. Ketika kita membiasakan dengan hal-hal yang positif, anak pun akan merekam dengan postif pula. Peran umminya-lah yang menjadi pokok keberhasilan seorang anak. Pantas apabila ibu adalah Madrasatul ula (sekolah pertama) bagi anaknya. Di sini peran ayah sebagai khadim (pembantu) sang istri.

Orang tua mana yang tidak menginginkan anaknya menjadi shaleh dan shalehah. Mengeluarkan biaya pendidikan yang mahal sekalipun, tentu akan dimaksimalkan oleh orang tua supaya mencapai tujuan yang kita harapakan.

Tapi perlu diingat, sehebat apapun pendidikan yang diterapkan, semahal apapun pendidikan yang diberikan, bila kita sebagai orang tua hanya bisa menitipkan saja tentu keberhasilan tak akan sempurna.

Keluargalah yang menjadi basic sebagai tempat menuntut ilmu yang pertama. Tentu kiranya kita sebagai orang tua menginginkan keturuanan yang menjadi kebanggaan kita, karena telah diamanahi Allah ‘Azza wa Jalla.

Anak pun yang akan bisa menolong kita, sebaliknya anak juga bisa mencelakakan.

Semoga duriyyah kita menjadi harapan kita untuk selalu mentaati Allah dan Rasul-Nya. Amiin.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. nati insya allah kalau udah besar jadi dai beneran salam sukses

Silakan memberikan Komentar untuk pengembangan blog ini.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: